Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, dengan sebagian besar cadangan berasal dari bijih nikel laterit yang tersebar di wilayah kepulauan. Di balik lahan merah yang sering terlihat di area pertambangan, tersimpan “emas hijau” yang vital bagi industri modern, terutama dalam produksi baterai kendaraan listrik. Mari kita mengintip teknologi di balik proses penambangan nikel laterit yang kompleks namun efisien ini. Proses ekstraksi nikel dari endapan laterit melibatkan serangkaian tahapan yang terencana dengan baik, memastikan bijih berharga ini dapat dimanfaatkan secara optimal.
Penambangan nikel laterit umumnya menggunakan metode penambangan terbuka atau open pit mining karena endapan bijihnya yang relatif dangkal. Proses ini dimulai dengan pembersihan lahan dari vegetasi, diikuti dengan pengupasan tanah penutup (overburden), yaitu lapisan tanah dan batuan yang tidak mengandung bijih nikel. Alat berat seperti ekskavator raksasa dan dump truck berkapasitas besar menjadi tulang punggung dalam tahapan ini. Misalnya, di salah satu konsesi tambang di Sulawesi Tenggara pada bulan Februari 2025, operasi penambangan harian melibatkan lebih dari 50 unit dump truck yang mampu mengangkut ribuan ton material setiap hari, sebuah gambaran nyata tentang skala operasi ini.
Setelah lapisan penutup disingkirkan, bijih nikel laterit yang kaya akan nikel kemudian digali. Bijih ini umumnya terbagi menjadi dua kategori utama berdasarkan kandungan nikelnya: bijih kadar tinggi (saprolit) dan bijih kadar rendah (limonit). Setiap jenis bijih memerlukan teknologi pengolahan yang berbeda. Untuk bijih saprolit, yang biasanya memiliki kadar nikel lebih tinggi, metode pirometalurgi sering digunakan. Proses ini melibatkan pengeringan, kalsinasi, dan peleburan dalam tungku listrik (Rotary Kiln Electric Furnace – RKEF) pada suhu ekstrem, menghasilkan feronikel. Proses RKEF, misalnya, membutuhkan suhu hingga 1600 derajat Celsius untuk mengubah bijih menjadi paduan nikel-besi yang siap digunakan industri.
Sementara itu, untuk bijih limonit yang berkadar nikel lebih rendah dan kaya kobalt, hidrometalurgi menjadi pilihan utama. Salah satu teknologi paling canggih dalam kategori ini adalah High-Pressure Acid Leach (HPAL). Dalam proses HPAL, bijih dihancurkan dan direaksikan dengan asam sulfat pekat di bawah tekanan dan suhu tinggi dalam autoklaf. Ini memungkinkan nikel dan kobalt larut ke dalam larutan, yang kemudian dimurnikan lebih lanjut untuk mendapatkan produk akhir yang sangat murni, cocok untuk bahan baku baterai kendaraan listrik. Pada tanggal 15 Mei 2025, sebuah pabrik HPAL di Maluku Utara berhasil mencapai kapasitas produksi penuh, menandai tonggak penting dalam upaya hilirisasi nikel di Indonesia.
Singkatnya, mengintip teknologi di balik penambangan nikel laterit mengungkapkan sebuah industri yang terus berinovasi, dari alat berat di lapangan hingga proses metalurgi yang canggih. Ini adalah upaya berkelanjutan untuk mengubah “emas hijau” di balik lahan merah menjadi produk bernilai tambah tinggi, mendorong perekonomian dan mendukung transisi energi global.