Mengolah Nikel di dalam negeri adalah imperatif ekonomi dan strategis bagi Indonesia, bukan sekadar pilihan kebijakan. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen nikel mentah terbesar dunia, namun manfaat ekonominya terbatas karena statusnya sebagai pengekspor komoditas. Nilai jual bijih nikel (ore) jauh lebih rendah dibandingkan produk olahannya seperti ferronickel, nickel matte, apalagi komponen yang lebih canggih untuk baterai kendaraan listrik. Dengan Mengolah Nikel secara mandiri, Indonesia mengambil kendali atas rantai nilai global, meningkatkan pendapatan negara secara eksponensial, dan memastikan sumber daya alam memberikan manfaat maksimal bagi kesejahteraan rakyat.
Langkah pertama yang diambil pemerintah untuk mendorong Mengolah Nikel adalah melalui kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah. Keputusan ini, yang efektif sejak 1 Januari 2020, berhasil memaksa investasi asing dan domestik masuk ke sektor hilir, yaitu pembangunan fasilitas peleburan (smelter) dan pemurnian. Sebagai contoh keberhasilannya, di Kawasan Industri Morowali (IMIP), Sulawesi Tengah, jumlah smelter nikel yang beroperasi telah bertambah menjadi 25 unit hingga akhir tahun 2024. Data terbaru yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian pada tanggal 20 November 2024 menunjukkan bahwa kapasitas produksi ferronickel di IMIP telah mencapai 2,5 juta ton per tahun. Peningkatan produksi olahan ini menjadi indikasi jelas peralihan fokus industri.
Manfaat ekonomi dari Mengolah Nikel sangat dramatis. Sebuah bijih nikel mentah dengan kandungan 1,7% nikel, misalnya, mungkin dijual seharga $30 per ton. Namun, ketika bijih tersebut diolah menjadi nickel matte atau nickel sulfate yang merupakan bahan baku prekursor baterai, nilai jual per tonnya dapat meningkat hingga 20 kali lipat atau lebih, tergantung pada harga nikel global. Berdasarkan analisis dampak ekonomi yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, diperkirakan peningkatan nilai tambah dari hilirisasi nikel ini menyumbang peningkatan penerimaan devisa negara sebesar $35 miliar pada tahun 2025, angka yang jauh lebih besar dibandingkan ekspor mentah. Proyeksi ini menjadikan nikel sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar, menggeser sektor komoditas tradisional.
Selain keuntungan finansial, pembangunan industri pengolahan nikel juga menciptakan lapangan kerja dan memacu transfer teknologi. Fasilitas smelter modern memerlukan tenaga ahli di bidang metalurgi, teknik kimia, dan operasional pabrik. Di kawasan industri Wedabay, Halmahera, tercatat pada hari Rabu, 5 Februari 2025, bahwa sebanyak 8.500 pekerja lokal telah terserap di berbagai tingkatan operasional pabrik pengolahan nikel, termasuk 1.200 insinyur yang mendapatkan pelatihan khusus dari mitra teknologi asing. Hal ini menunjukkan bahwa Mengolah Nikel bukan hanya mengubah produk, tetapi juga mentransformasi struktur ketenagakerjaan dan kapabilitas industri nasional.
Dengan menguasai mata rantai produksi dari hulu (tambang) hingga produk akhir (katoda baterai), Indonesia memposisikan diri sebagai kekuatan geopolitik dan geoekonomi di masa depan energi bersih global. Ini adalah langkah fundamental untuk memastikan kemandirian ekonomi dan mencegah Indonesia terperangkap dalam status negara pengekspor bahan mentah.