Industri pertambangan emas terus berinovasi, dengan fokus utama pada optimalisasi pengolahan yang sekaligus menerapkan teknik ekstraksi ramah lingkungan. Ini adalah respons terhadap tuntutan global akan praktik pertambangan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Tujuan optimalisasi pengolahan ini adalah untuk meningkatkan perolehan emas sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap alam, terutama dari penggunaan bahan kimia berbahaya. Pada Rabu, 17 September 2025, dalam sebuah webinar internasional tentang Green Mining Technology yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Bapak Dr. Ir. Cokro Aminoto, seorang ahli metalurgi dan mineral dari Institut Teknologi Bandung, menyatakan, “Optimalisasi pengolahan emas tidak lagi bisa mengesampingkan aspek lingkungan. Kita harus mencari cara yang lebih aman dan efisien.” Pernyataan ini didukung oleh laporan dari Lembaga Penelitian Emas Hijau per Agustus 2025, yang menunjukkan penurunan penggunaan merkuri hingga 70% pada beberapa tambang skala kecil yang telah mengadopsi teknik ramah lingkungan.
Salah satu tantangan terbesar dalam optimalisasi pengolahan emas adalah mengurangi atau menghilangkan penggunaan merkuri, zat yang sangat toksik dan berbahaya bagi lingkungan serta kesehatan manusia. Solusinya adalah beralih ke metode tanpa merkuri atau yang lebih aman. Contohnya, teknik gravitasi dan flotasi sering digunakan sebagai tahap awal untuk memisahkan emas dari bijih tanpa bahan kimia. Metode ini efektif untuk bijih emas dengan partikel kasar. Setelah itu, bisa dilanjutkan dengan metode sianidasi tertutup yang lebih terkontrol atau teknologi bioleaching yang memanfaatkan mikroorganisme untuk melarutkan emas, jauh lebih ramah lingkungan. Misalnya, di sebuah tambang rakyat di Kalimantan Barat, pada 12 September 2025, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten telah mengedukasi masyarakat tentang penggunaan metode meja goyang untuk memisahkan emas, mengurangi ketergantungan pada merkuri.
Selain perubahan metode ekstraksi, optimalisasi pengolahan juga mencakup efisiensi penggunaan air dan energi. Sistem sirkulasi air tertutup, misalnya, mengurangi jumlah air yang dibutuhkan dan mencegah pencemaran limbah cair ke lingkungan. Penggunaan energi terbarukan untuk operasional pabrik pengolahan juga menjadi bagian dari upaya ini. Desain pabrik yang modern dan otomatisasi juga berkontribusi pada efisiensi operasional secara keseluruhan. Sebuah laporan dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPLHK) pada 1 Juli 2025, menyoroti keberhasilan penerapan sistem zero discharge limbah cair di beberapa pabrik pengolahan emas besar.
Edukasi dan pelatihan bagi operator tambang, terutama di skala kecil, sangat penting untuk mendukung optimalisasi pengolahan emas yang ramah lingkungan. Pendampingan dari ahli metalurgi dan dukungan regulasi dari pemerintah akan mendorong adopsi praktik-praktik berkelanjutan. Dengan demikian, optimalisasi pengolahan emas dengan teknik ekstraksi yang ramah lingkungan bukan hanya tuntutan, tetapi juga sebuah kesempatan untuk menciptakan industri pertambangan yang lebih bertanggung jawab dan memberikan nilai tambah maksimal bagi negara.