Lonjakan masif dalam adopsi kendaraan listrik (EV) dan perangkat elektronik canggih telah menempatkan lithium sebagai “emas putih” abad ke-21. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa Permintaan Global Lithium telah melonjak hingga 200% dalam beberapa tahun terakhir, menciptakan tekanan pasokan yang signifikan di seluruh dunia. Dalam konteks ini, Indonesia, meskipun belum menjadi produsen utama lithium, tengah memetakan potensi besar untuk masuk ke rantai pasok global, dengan proyeksi nilai ekspor yang fantastis, diperkirakan mencapai $5 miliar.
Kenaikan permintaan yang tajam ini didorong oleh komitmen global terhadap transisi energi. Setiap mobil listrik, mulai dari model entry-level hingga premium, membutuhkan puluhan kilogram lithium untuk baterai. Begitu pula dengan instalasi penyimpanan energi skala besar (ESS) yang vital untuk mendukung jaringan listrik berbasis energi terbarukan seperti PLTS dan PLTB. Dengan proyeksi bahwa lebih dari setengah mobil baru yang dijual pada tahun 2030 adalah EV, peran lithium menjadi tak tergantikan.
Potensi Sumber Daya dan Langkah Strategis Indonesia
Meskipun Indonesia tidak memiliki tambang lithium dalam skala besar seperti Chili atau Australia, potensinya terletak pada sumber daya non-konvensional dan strategi hilirisasi terintegrasi. Salah satu area yang sedang dieksplorasi adalah potensi kandungan lithium dalam air panas bumi (geotermal brine) dan mineral tertentu yang dihasilkan sebagai produk sampingan pengolahan mineral lain.
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah agresif untuk menarik investasi di sektor hulu hingga hilir baterai EV. Strategi ini bukan hanya tentang menambang, tetapi juga tentang memproses. Target utama adalah menjadi pusat manufaktur baterai EV terbesar di Asia Tenggara. Oleh karena itu, investasi besar-besaran diarahkan pada pembangunan pabrik katoda dan prekursor baterai yang membutuhkan pasokan lithium yang stabil.
Memanfaatkan Geotermal dan Ekstraksi Lokal
Untuk memenuhi Permintaan Global Lithium yang tinggi, penelitian di Indonesia kini difokuskan pada teknologi ekstraksi lithium dari geotermal brine di sejumlah lokasi panas bumi. Metode ini dianggap lebih berkelanjutan dan memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih kecil dibandingkan penambangan konvensional. Jika ekstraksi ini berhasil disempurnakan dan dikomersialkan, Indonesia akan memiliki sumber lithium yang unik dan kompetitif.